4
Suara angin mendesir pelan,
seperti biola yang bergetar di telingaku.
Aku berlari,
dengan seluruh tenaga yang kupunya,
menyusuri taman terindah yang pernah kulihat.
Astaga,
seandainya kau bisa melihatnya dengan matamu sendiri.
Rasanya sureal,
seperti sebuah lukisan dengan goresan tak terhitung,
dengan makna yang tak terbatas
terukir di setiap detailnya.
Langit tanpa batas terbentang
dalam nuansa biru.
Beberapa awan malas
melayang melintasi cakrawala.
Oh, terima kasih, Ibu Pertiwi.
Aku bertanya-tanya,
apa yang telah kulakukan
hingga pantas mendapatkan
momen seindah ini?
Namun aku tidak melihat banyak.
Aku hanya membuang-buang waktu.
Keindahan itu sementara.
Keindahan itu sementara.
Taman bunga yang indah tak berujung,
dengan setiap bunga mekar dalam warna berbeda,
dan masing-masing membawa perasaannya sendiri.
Mawar-mawar biru mengitariku,
andaikan itu takdir.
Biru, oh, biru.
Warnanya selalu terasa
seperti dibuat untuk bermimpi.
Itu milik lautan
dan langit yang tak berujung,
milik sore yang tenang
dan pikiran yang mengembara.
Mungkin itulah sebabnya
taman ini selalu membekas padaku
begitu lama.
Tapi tetap saja,
aku tidak melihat banyak.
Aku hanya membuang-buang waktu.
Keindahan itu sementara.
Keindahan itu sementara.
Keindahan itu sementara.
Aku tiba di ujung kebun,
dengan segala sesuatu
yang pernah dijanjikan kepadaku.
Namun yang kulihat
hanyalah jurang
yang hampa.
Aku memutar tubuhku.
Taman itu sudah tiada.
Karena keindahan itu sementara.
Keindahan itu sementara,
dan aku
tidak terlalu memperhatikannya.
- aln
September 27, 2026
6:40 PM
